Avengers: Endgame (2019)

Posted 2019/09/15 49 0

 

Lebih dari satu dasawarsa sejak Marvel Studios merilis film kesatunya, Iron Man (2008), tidak sedikit waralaba film yang mengolah wajah penciptaan film. Kini, lebih dari 10 tahun, terdapat 21 film, puluhan serial TV, game, dan merchandise yang rilis sebelum film Avengers: Endgame. Semua ini menjadikan MCU sebagai cangkir pendapatan besar masing-masing tahunnya.

Menceritakan sejumlah saat sesudah peristiwa jentikan Thanos, semua pahlawan yang tersisa berencana untuk membalikkan keadaan. Sesuai dengan kalimat motivasi “whatever it takes”, semua superhero bakal mempertaruhkan segalanya demi suasana alam semesta sebelumnya. Berhasilkan semua superhero membalikkan semuanya?

Tenang, kami enggak bakal membocorkan cerita. Kami melulu membeberkan aspek-aspek kualitas Avengers: Endgame sebagai suatu film yang bakal memang pantas ditunggu-tunggu. Jadi, kalian dapat puas menyimak ulasan inilah ini tanpa butuh takut empiris sinematik kalian terganggu!

Avengers: Endgame (2019)

Konklusi Saga yang Kompleks dan Memuaskan

Harus diakui, Russo Bersaudara jago banget menutupi seluruh rahasia guna film Avengers: Endgame. Bahkan, adegan spoiler yang sempat tersebar di media sosial rasanya enggak dominan besar. Joe dan Anthony Russo tahu apa yang mereka hadapi dengan seluruh ini. Mereka hendak konflik pamungkas ini begitu kompleks.

Avengers: Endgame benar-benar bermanfaat sebagai empiris film blockbuster. Jika kalian berempati dalam kendala yang dihadapi Avengers tersisa sesudah peristiwa menjelang dan tergolong Infinity War, kalian bakal merasa puas dengan film ini.

Durasi tiga jam yang tadinya dirasa terlampau lama bukanlah lelucon. Malah, nyaris setiap menit dipakai dengan baik, kecuali sejumlah adegan komedi yang mungkin dapat ditinggalkan guna versi Blu-Ray. Film Avengers: Endgame sukses mengikat seluruh cerita MCU dengan benang merah yang indah, emosional, menyayat hati, dan sarat harapan yang adalahpencapaian yang enggak bisa disangkal.

Sebagus-bagusnya, masih terdapat cela meski dapat dimaafkan. Karena plotnya yang padat dan tidak sedikit yang hendak diceritakan, sejumlah hal jadi terkesan tidak banyak berantakan. Terdapat sejumlah logika yang meragukan dan menyimpan tidak sedikit pertanyaan, tergolong di ending film. Bahkan, tidak banyak melanggar aturan yang diputuskan dari semua film MCU sebelum ini. Namun, terlepas dari itu, film ini menjadi perjalanan yang emosional dan memuaskan.

Lebih Banyak Pahlawan, Lebih Banyak Misi, Lebih Rumit

Adanya ansambel karakter dalam suatu film menjadi suatu tantangan, khususnya soal chemistry. Hebatnya, Joe, Anthony, serta semua aktor-aktris dapat bekerja sama dengan baik. Saking dekat dan naturalnya akting mereka, kalian bakal merasa bahwa mereka benar-benar ada di dekat kita.

Team-up karakter pun terasa fresh dengan lelucon cerdas dan selera humor yang bagus. Kalau Thanos jadi idola di peristiwa Infinity War, kali ini tidak saja dia. Semua menjadi bintang sebab berani berupaya lebih dari peran-peran di film MCU sebelumnya, sekalipun menjadi sidekick. Beberapa karakter berubah yang dapat jadi menandakan cerita di masa depan.

Enggak butuh diragukan lagi kualitas semua aktor dan aktris. Penampilan mereka kerap buat sebagian peminat tepuk tangan walau durasi tampilnya singkat. Nah, telah siap guna bersukacita dan berduka melihat aksi semua karakter?

Benar-benar Total dalam Urusan CGI

Selalu, film-film Marvel enggak pernah membuat kecewa soal visual dan scoring. Selalu total dalam hal memperlihatkan CGI yang memanjakan mata. Kita dapat membayangkan bahwa tempat dalam film Avengers: Endgame tersebut nyata. Makanya, enggak mengherankan bila jumlah kru visual efek di credit title membludak.

Aspek visual efek jadi keunggulan utama film yang diproduseri oleh Jon Favreau dan James Gunn ini. Makanya, bila ada pemirsa yang terpesona dan puas banget dengan film ini, di antara alasannya ialah rentetan aksi dengan visual yang benar-benar memanjakan mata dan menggetarkan jiwa.

Surat Cinta guna Penggemar MCU

Sudah jadi rumus umum bahwa film superhero tentu ada unsur rekaan ilmiah, namun enggak terasa berat. Film yang naskahnya ditulis oleh Christopher Markus dan Stephen McFeely ini mempunyai twist yang benar-benar mengejutkan, bahkan enggak mengelak dari aspek gelap cerita.

Terlepas dari kekuranganya, Avengers: Endgame terasa laksana surat cinta dan akhir dari MCU. Tentunya, enggak ada semua penggemar yang inginkan film itu benar-benar jadi akhir. Ya, sesudah Avengers: Endgame tampil dengana sempurna dalam sejumlah cara, MCU pasti siap tampil lebih dalam Fase 4 mendatang.

Akhirnya, film yang ditunggu-tunggu satu tahun yang kemudian ini tayang mulai 24 April 2019. Karena durasinya tiga jam satu menit, mending hindari minum berlebih agar kandung kemih kalian enggak mengusik kenyamanan ketika kalian merasakan film.

Harus diakui, Avengers: Endgame memang punya hype besar, namun bukan berarti kalian enggak menyimak klasifikasi usia, ya. Jadilah pemirsa yang cerdas guna menaati segala peraturan, tergolong buang sampah pada tempatnya.

Kalau telah nonton, kasih tahu pendapat dan evaluasi Avengers: Endgame versi kalian di kolom pembahasan yang terdapat di unsur atas tulisan ini, ya. Enggak boleh hingga ketinggalan hype-nya, namun juga tidak boleh sebar spoiler.

Movies in this article