Captain America – Civil War

Posted 2019/09/24 40 0

 

Film superhero Marvel terbaik sejauh ini, penghargaan ini tampaknya tak berlebihan guna “menyederhanakan” sensasi laksana apa yang ditawarkan Captain America: Civil War untuk Anda. Ada rasa kekaguman dan kepuasan tersendiri saat melihat susunan panjang credits mulai berputar di layar lebar, menyederhanakan seluruh aksi superhero kita ke dalam susunan panjang nama simpel yang pun tentu saja, memuat tambahan scene di dalamnya. Ia selesai jadi sesuatu yang lebih baik dari yang kami antisipasi.

Ada ketakutan bahwa Russo Brothers, terlepas dari apa yang sukses mereka capai dengan Winter Soldier yang memesona, tak akan dapat merangkum aksi perang antar superhero yang begitu fenomenal ini menjadi suatu film yang tak selesai sekedar sebagai suatu fan-service. Ini ialah film yang tak melulu akan memuat nyaris semua superhero yang telah sempat diperkenalkan Marvel lewat film solo dan Avengers, tetapi pun dua superhero baru yang kesudahannya masuk ke dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). Bahwa pada akhirnya, mereka inginkan tak mau, mesti mengorbankan apa yang menciptakan Winter Soldier begitu spektakuler dua tahun yang lalu. Namun untungnya, tak terdapat satupun kekhawatiran itu terjadi. Civil War ialah sebuah film superhero spektakuler yang akan menciptakan Anda jatuh hati dan menempatkannya sebagai di antara yang terfavorit di hati Anda. Tak percaya? kita akan selesai menganggukkan kepala Anda sesudah mencicipinya secara langsung.

Motivasi

Lantas, apa yang menciptakan kami terpukau dengan Captain America: Civil War ini? Untuk Anda yang masih belum tak asing dengan garis ceritanya, Civil War memasarkan konflik antara dua “bintang” Avengers – Captain America dan Ironman yang kesudahannya memaksa anggota Avengers yang lain guna mulai memihak.

Fakta bahwa mereka tak punya keharusan untuk “menjawab” pada otoritas manapun dan tak dapat dikendalikan menciptakan ratusan negara di semua dunia khawatir. Tergabung dalam komite eksklusif PBB, negara-negara ini menuntut tanggung jawab dan kendali bareng atas kesebelasan superhero yang tak melulu punya potensi untuk mengamankan dunia ini, tetapi pun menghancurkannya. Tony Stark setuju dengan urusan ini, tetapi Steve Rogers – si Captain America tidak. Cap merasa bahwa keputusan politis laksana ini malah akan menciptakan Avengers tak lagi efektif menjalankan perannya. Namun konflik antara dua-duanya memuncak sesudah sang kawan lama Cap – Bucky Barnes aka The Winter Soldier kembali mengindikasikan batang hidungnya dan malah memicu tidak sedikit kekacauan dan kematian. Cap percaya bahwa Bucky masih dapat “diselamatkan”, sedangkan Tony Stark melihatnya sebagai mula untuk menunjukkan akuntabilitas kesebelasan Avengers tersebut sendiri.

Menjawab pertanyaan yang kami lemparkan di atas, Civil War memesona sebab kemampuan sang sutradara dan penulis kisah untuk meracik suatu konsep konsekuensi dan motif dalam proporsi yang begitu pas dan rasional. Kita seluruh paham bahwa tak akan gampang untuk meyakinkan 10 karakter superhero yang melebur dalam satu ruang yang sama bakal bisa selesai jadi konsentrasi perhatian. Selalu terdapat yang bakal dikorbankan atau selesai dipaksakan. Tapi tidak di Civil War. Kehebatannya ialah keberhasilan guna meyakinkan seluruh karakter ini punya porsi kisah dan momen urgen memorable yang menciptakan peran mereka lebih bercahaya dan tak sekedar selesai jadi cameo atau karakter penyokong yang tak punya kontribusi sama sekali di sisi cerita. Ini menciptakan motivasi mereka guna bertarung dan memihak pada di antara pihak – Team Captain America ataupun Team Ironman menjadi sesuatu yang rasional, sesuatu yang dapat Anda mengerti, dan mungkin selesai jadi sesuatu yang kita dukung dengan penuh. Hasilnya? Ketika momen besar tersebut tiba dan “Civil War” tersebut terjadi, Anda sukses melihat setiap karakter ini sebagai individu bertolak belakang dengan semangat yang bertolak belakang pula. Luar biasa.

Bahkan, Civil War sukses membuat karakter-karakter yang tak terasa begitu urgen di seri-seri MCU sebelumnya laksana War Machine, Falcon, atau bahkan si Scarlet Witch sendiri selesai sebagai bintang. Dari sisi scene yang lebih emosional, yang memancing tawa, sampai yang menciptakan adrenalin kita berpacu kencang, ketiga karakter ini punya porsi yang spektakuler di Civil War dan memperkayanya dengan teknik yang tak bakal pernah kita prediksi sebelumnya. Tapi kompleksitas kisah tak pernah melulu soal scene fighting dan kerusakan di sana-sini. Bahkan scene super tenang dimana kesebelasan Avengers sekedar merundingkan sudut pandang individu mereka soal akuntabilitas jadi pesona sekaligus landasan kisah yang keren. Civil War tak melulu melemparkan kita scene pertarungan epik dan sejenisnya, namun juga pelbagai pilihan moral yang lumayan untuk menciptakan Anda bertanya pada diri kita sendiri, “Siapa yang benar?”.

Black Panther dan Spiderman

Captain America – Civil War

Captain America – Civil War

Jika menciptakan karakter-karakter Avengers, minus Thor dan Hulk, guna saling bertarung satu sama beda di dalam satu film tak tersiar meyakinkan untuk Anda, bayangkan keraguan yang muncul andai film yang sama ternyata akan dipakai sebagai media untuk mengenalkan dua karakter superhero baru ke MCU – Black Panther dan Spiderman. Benar sekali, si insan laba-laba akhirnya mengindikasikan batang hidungnya di sini! Pertanyaannya, apakah kedua karakter ini akan selesai jadi sebatas cameo guna film solo selanjutnya? Ataukah Russo Brothers memang lumayan “cerdas” guna meyakinkan dua-duanya bergerak dalam satu kesimpulan yang sama dengan sisa kesebelasan Avengers yang lain? Untungnya, yang kedua. Black Panther dan Spiderman tampil begitu luar biasa di film ini.

Kami individu bukanlah peminat berat komik Marvel dan seluruh universe yang ia usung, dan tak punya kedekatan sama sekali dengan sosok Black Panther yang lumayan asing di telinga dan mata kami. Dan kami yakin, ada tidak sedikit penonton MCU yang sama laksana kami, yang mulai menyusun semuanya dari layar lebar. Tapi apakah Black Panther selesai jadi suatu karakter yang dapat mencuri hati kami di penampilan perdananya ini? Jawabannya, iya. Black Panther ialah karakter yang luar biasa. Kita tidak sekedar merundingkan soal kostum hitam legamnya yang super canggih dengan kemampuan jasmani seorang Panther yang dapat berlari cepat, lincah, bertarung ganas, atau cakar Vibraniumnya yang badass. Kita pun membicarakan karakternya sendiri. Kita berhadapan dengan sosok lelaki yang begitu bertolak belakang dengan sisa kesebelasan Avengers sekitar ini dengan jati diri yang membuatnya layak disegani. Civil War dapat dibilang jadi pengenalan siapa tersebut Black Panther, dan sejauh yang kami rasakan, melakukannya dengan paling baik.

Berita baiknya? Hal yang sama pun terjadi dengan Spiderman. Akhirnya mendarat di tangan Marvel, kita tak perlu fobia bahwa Spiderman dan Peter Parker yang baru akan selesai sekedar cameo yang melulu mengucap satu dua patah kata dan lantas menghilang begitu saja. Spiderman muncul dengan peran yang urgen di Civil War ini dan sejauh ini, terlihat paling menjanjikan. Ia ialah manusia laba-laba remaja yang berjuang tampil relevan di tengah pertarungan semua “raksasa”, menyeluruh dengan jati diri fun dan mulutnya yang “ringan”. Apa yang hendak Anda lihat dan harapkan dari seorang Spiderman dieksekusi Marvel dengan demikian baik di Civil War ini. Namun walaupun mesti diakui, dikomparasikan dengan sisa kesebelasan Avengers yang lain, motivasinya guna ikut tak sekuat dan sekompleks yang lain. But that Aunt May… Hmmm…

Scene Pertarungan Terepik

Kekuatan kisah di Civil War hanyalah di antara dari dalil untuk jatuh hati dengannya, sebab seri ini, menurut keterangan dari kami, pun pantas menyandang predikat sebagai di antara film superhero dengan scene battle terepik sejauh ini. kita masih ingat dengan adegan pertarungan Thor dan Ironman di Avengers kesatu? Atau saat Hulk Buster berjuang menahan kemarahan Hulk di Age of Ultron? Atau saat Falcon melawan Ant-Man di film solo Ant-Man? Sekarang bayangkan sensasi yang sama, kita kalikan 10 kali lipat dengan seluruh karakter Avengers tercebur langsung di dalamnya. Terdengar gila? Memang segila tersebut dan sekeren yang dibayangkan.

Anda yang sempat menyaksikan trailer-trailer Civil War sebelumnya barangkali sempat menyaksikan bagaimana kedua kesebelasan berlari dan saling berhadapan di bandara, yang mesti dinyatakan terlihat laksana scene separuh jadi yang tak tampak menggoda sama sekali. Tetapi percayalah, itu ialah awal dari di antara scene pertarungan superhero terbaik yang pernah kita dapatkan sejauh ini. Marvel tak menyangga diri dan tidak mempedulikan semua karakter ini untuk membuang baku hantam mereka sebaik barangkali dengan tetap mempertahankan ciri khas mereka. Kerennya lagi? Ini bukanlah pertarungan “terhormat” dengan bentuk 1 vs 1. Banyak karakter superhero ini menunjukkan senjata rahasia mereka dan dalil mengapa mereka bukanlah individu yang gampang ditundukkan saja. Selama 15 menit, pertarungan ini akan menciptakan Anda tersenyum laksana seorang anak kecil yang baru kesatu kali menyaksikan film superhero.

Karena mesti diakui, nyaris semua dari anda yang pergi menyaksikan Civil War memang muncul dengan satu ekspektasi yang sama di samping sebuah kisah yang solid – suatu scene pertarungan yang epik antara anggota Avengers. Dan yakinlah, kita sama sekali tidak bakal kecewa dengan apa yang mereka tawarkan. Atau sebaliknya, Anda barangkali akan terbit dari bioskop dengan perasaan yang begitu puas dan mendapatkan suatu kualitas yang tak pernah kita dapatkan sebelumnya.

Kerennya lagi? Walaupun pertarungan di bandara ini jadi highlight, dia bukanlah satu-satunya pertarungan memorable yang bakal Anda dapatkan. Bahkan dapat disebut bahwa nyaris semua scene pertarungan dan aksi di film ini benar-benar mengisi apa yang kita harapkan, dari koreografi, fan-service, kamera, sampai ragam efek yang ada. Dari mula film hingga akhir film, kami tak mengejar sedikit juga momen yang membosankan.

Satu-satunya urusan yang tidak cukup dari film ini hanyalah musuh utamanya yang benar-benar tak terasa relevan dengan garis kisah yang ada. Setidaknya di seri Avengers sebelumnya, cerita selalu selesai dengan pertarungan melawan si “Big Bad Wolf” yang biasanya selesai punya keterampilan lebih baik dan tak susah untuk mengungguli Avengers begitu saja. Di Civil War? Ketidakmampuan Marvel guna meracik karakter antagonis yang unik semakin terbukti.

Pantaskah Ditonton di Layar Lebar?

Captain America: Civil War selesai jadi film superhero Marvel terbaik sejauh ini, minimal di mata kami. Hampir seluruh elemen yang kita harapkan dari nama “Civil War”, terlepas apakah Anda ialah penggemar si seri komik atau tidak, dieksekusi begitu manis di sini. Apa yang kita suka dari Winter Soldier disempurnakan dengan garis kisah kuat yang dapat meyakinkan masing-masing karakter Avengers yang tercebur di dalamnya memang berangkat dari sebuah semangat yang dapat dipercaya dan dimengerti. Scene pertarungan super epik yang akan menciptakan Anda tersenyum laksana anak kecil sampai pengenalan dua karakter – Black Panther dan Spider-Man yang pun dieksekusi dengan manis akan menciptakan Anda puas ketika susunan credits telah mengemuka di depan mata.

Jadi, pantaskah film ini disaksikan di layar lebar? Kami sangat menyarankan Anda guna mencicipinya. Tak terdapat efek yang membuatnya mesti disaksikan dalam bentuk 3D, tetapi kami sangat menyarankan kualitas pengertian lebih tinggi laksana IMAX guna sensasi yang jauh lebih baik. Apakah Anda mesti menghindari spoiler di dunia maya guna mencicipinya? Kami pun menjawab tidak guna pertanyaan ini. Karena nyaris tak terdapat kunci kisah yang dapat dibagi soal film ini dan selesai mengacaukan pengalaman menyaksikan Anda. Apapun yang dikisahkan oleh orang lain untuk Anda soalnya, kita tetap akan merasakan visualisasinya sepenuh hati. You gotta watch this movie..