Mission: Impossible – Fallout, Konsistensi dalam Sebuah Film Aksi

Posted 2019/09/16 52 0

 

Harus dinyatakan film bergenre aksi adalah genre yang sangat digemari. Peluang ini juga dijadikan produser untuk mencetuskan sekuel dari film tersebut. Agar tak membosankan, filmmaker juga berlomba-lomba guna menciptakan kisah menarik untuk menyokong adegan aksi. Sayangnya, enggak seluruh film aksi dapat mempertahankan konsistensinya. Makin tidak sedikit sekuel, kisah dan aksi yang disajikan malah menunjukkan kemunduran. Namun, kelihatannya steorotipe itu enggak berlaku bikin waralaba Mission: Impossible.

Waralaba yang lekat dengan sosok Tom Cruise sebagai Ethan Hunt ini malah membalikkan paradigma tersebut. Sejak film keempat, Mission: Impossible laksana tak pernah mengindikasikan tanda-tanda kelelahan. Makin ke sini, kisah yang ditawarkan kian menarik dengan adegan aksi yang kian menggila. Hal tersebut dapat lo buktikan sendiri dengan menyaksikan film teranyar yang jadi entri keenam waralaba ini, Mission: Impossible – Fallout.

Agen IMF Ethan Hunt pulang hidup dengan ‘tenang’ sesudah menerima misi guna menggagalkan transaksi senjata nuklir plutonium supaya tidak jatuh ke tangan Apostles. Sayangnya, tujuan Hunt gagal sesudah plutonium itu hilang. Bagi menggagalkan rencana jahat grup teroris Apostles yang hendak menggunakan plutonium itu untuk menghancurkan dunia, Hunt kali ini berpartner dengan agen CIA mempunyai nama August Walker (Henry Cavill) serta agen IMF yang sekitar ini menemaninya. Hunt juga berpacu dengan waktu supaya plutonium yang hilang itu tak jatuh ke tangan yang salah.

Mission: Impossible – Fallout ialah bukti nyata bahwa Tom Cruise benar-benar tak menua. Di usianya yang ke-56, sang aktor malah makin menunjukkan performa terbaiknya. Membawa gaya yang sama dengan film-film Mission: Impossible sebelumnya, akting Cruise tetap menawan dengan totalitas yang luar biasa.

Yap, totalitas yang diperlihatkan olehnya sekitar mengabdi untuk waralaba ini benar-benar di luar ambang batas. Mungkin lo udah pernah baca berita soal Cruise yang mematahkan kakinya karena aksi melompati gedung. FYI, Cruise benar-benar mengerjakan keduanya. Melompati gedung dan mematahkan kakinya. Hal ini pun menciptakan syuting film ini sempat ditunda untuk sejumlah waktu.

Di samping itu, bukti totalitas Cruise pun dibuktikannya dengan memungut les terbang helikopter supaya bisa menerbangkannya dalam adegan di film ini. Sedikit bocoran, adegan Cruise menerbangkan helikopter ialah salah satu yang enggak boleh lo lewatkan.

Harus dinyatakan bahwa adegan aksi yang benar-benar terasa nyata dan emosional berikut yang memisahkan Mission: Impossible dengan waralaba film aksi lainnya. Lebih kerennya lagi, adegan aksi minim CGI yang disajikan dalam Fallout pun sama mustahilnya dengan banyak sekali film aksi beda yang kerap memakai efek CGI. Hasilnya juga terlihat jelas dalam film. Adegan stunt yang dilaksanakan Cruise sukses buat penonton selalu menyangga napas. Kakinya yang patah juga terbayar lunas dengan rasa puas penonton.

Permainan kamera pun sangat berperan besar dalam epiknya adegan aksi di Fallout. Teknik pemungutan gambar yang dilaksanakan sinematografer Rob Hardy menciptakan setiap adegan jadi bernyawa. Khususnya ketika adegan aksi benar-benar dimainkan oleh Cruise atau stuntmen. Permainan efek suara dan scoring yang mengesankan pun menciptakan semuanya jadi terasa sempurna.

Tentu enggak seluruh adegan aksi ‘mustahil’ benar-benar dilaksanakan tanpa efek komputer. Ada sejumlah adegan yang enggak luput dari sentuhan ‘manis’ CGI. Mungkin intensitas dan ketegangannya memang enggak setinggi adegan aksi Cruise melompati gedung. Namun, sutradara Christopher McQuarrie sukses mengakalinya dengan menyisipkan bumbu-bumbu lain. Entah tersebut humor atau drama, adegan aksi yang tadinya berkesempatan ngebosenin malah jadi terlihat unik dan sarat arti.

Fallout dapat dibilang menutupi sekian banyak kelemahan yang terdapat di seri Mission: Impossible sebelumnya. Selama ini, Mission: Impossible melulu lekat dengan Tom Cruise, Jeremy Renner (sebagai Brandt, dan dia absen di film ini), Simon Pegg (sebagai Benji), dan Ving Rhames (sebagai Luther). Karakter yang mereka mainkan memang punya penokohan kuat. Kualitas akting mereka pun pun membuat semuanya kian lengkap.

Sayangnya, urusan itu juga memiliki konsekuensi. Karakter-karakter beda di samping yang mereka perankan malah tenggelam dan enggak begitu mendapat sorotan. Penonton juga jadi terlampau bersimpati untuk karakter jagoan saja, sementara karakter penjahat jadi dilupakan begitu aja.

Karakter antagonis di Fallout juga mendapatkan porsi dan penokohan yang paling baik. Sean Harris kembali membintangi Solomon Lane yang jadi penjahat utama di film sebelumnya. Penokohannya pun kian terasa di film ini berkat perannya yang cukup dominan dalam cerita.

Di antara seluruh penampilan rapi yang dibawakan oleh semua pemeran, Henry Cavill lah yang tampil sangat gemilang. Enggak dapat bohong bila semua mata tertuju padanya karena kasus “kumis” yang punya andil terhadap kebobrokan Justice League. Entah kenapa, justru urusan itu menjadi berkah baginya di Fallout. Penampilan berkumisnya menciptakan Cavill terbit dari daya tarik Superman yang sekitar ini dia bawa. Dia pun tampil rapi sebagai karakter ‘abu-abu’ yang dapat menyeimbangi daya tarik Tom Cruise sebagai ikon Mission: Impossible.

Mission: Impossible - Fallout, Konsistensi dalam Sebuah Film Aksi

Penokohan karakter August Walker yang dibintangi Cavill sebetulnya agak menjebak. Cerita memang jadi dapat ditebak sebab kita seluruh tahu bahwa Cavill bakal menjadi penjahat utama walau di dalam kisah diceritakan sebagai agen CIA. Hal ini mungkin dirasakan sebagian orang sebagai kekurangan film sebab membuat kisah jadi gampang ditebak. Pendapat lo terdapat benarnya, tetapi ada salahnya juga.

Yap, sangkaan lo benar sebab Cavill memang berperan sebagai penjahat utama yang akan berkelahi dengan Ethan Hunt di babak pamungkas. McQuarrie dengan skenarionya yang cerdas buat lo merasa sotoy di akhir film. Lewat penokohan karakter August Walker, lo bakal dipaksa menebak-nebak bagaimana film bakal berakhir. Sepanjang film, lo akan diciptakan penasaran dengan siapa dan apa sebetulnya motif Walker sebagai seorang penjahat.

Dua ibu jari untuk McQuarrie sebagai sutradara sekaligus pengarang skenario. Tampak dia tahu dengan jelas bila filmnya punya sejumlah kelemahan, atau barangkali dia memang sengaja membuat kekurangan tersebut. Namun, dia selalu sukses menutupinya dengan baik sehingga pemirsa enggak terlampau memikirkan kekurangan tersebut.

Salah satu tahapan menutupi kekurangan yang dapat dijadikan contoh ialah penokohan karakter August Walker. Seperti yang udah diterangkan di atas, dia memang tidak jarang kali memberi petunjuk bila dia ialah penjahat. Hal ini jelas menjadi kesalahan karena kisah jadi akan gampang ditebak.

Untungnya, McQuarrie secara berhasil menutupnya dengan adegan aksi luar biasa yang tak terdapat jeda semenjak terungkapnya niat jahat Walker sampai film berakhir. McQuarrie pun dengan tepat memainkan twist plot yang membuat kisah yang awalnya terkesan gampang ditebak, jadi sebaliknya.

Selama nyaris 2,5 jam, lo akan menikmati betapa sepadannya apa yang lo dapatkan dengan yang lo bayarkan. Bahkan, seluruh sajian apik, mulai dari adegan aksi superepik, akting menawan, sampai kumis Henry Cavill, masa-masa 147 menit juga jadi terasa kurang. McQuarrie pun makin mengindikasikan kualitasnya dengan menunjukkan untuk filmmaker beda bagaimana suatu film aksi dibuat. Jadi, semoga aja berkat keepikan Fallout, tren film aksi pulang ke masa old school ketika adegan aksi dilaksanakan dengan aksi nyata semua pemainnya, bukan dengan efek komputer.

Mission: Impossible – Fallout tayang mulai 25 Juli 2018 di semua bioskop Indonesia. Kalau lo udah nonton film ini, tidak boleh lupa kasih evaluasi versi lo sendiri di kolom review, ya!

Movies in this article