REVIEW Once Upon a Time in Hollywood

Posted 2019/09/15 44 0

 

Terakhir kali membesut The Hateful Eight pada 2015 lalu, Quentin Tarantino pulang menggebrak panggung dunia lewat Once Upon a Time in… Hollywood. Film keluaran Sony Pictures ini mengangkat nama-nama artis Hollywood yang buat ‘ngeri’, sejumlah di antaranya ialah Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, dan Margot Robbie.

Boleh dibilang, film ini adalahsurat cinta Tarantino ke Hollywood yang ia sayang. Banyak referensi kebiasaan pop Hollywood yang hadir. Namun, laksana yang telah diprediksi, pemirsa generasi milenial butuh browsing untuk dapat mengerti lebih jauh mengenai elemen-elemen di Once Upon a Time in… Hollywood.

Upaya Rick Dalton guna Kembalikan Masa Jaya

Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) ialah seorang aktor yang udah lama malang melintang di industri TV Hollywood. Ditemani oleh kawan sekaligus pemeran penggantinya, Cliff Botth (Brad Pitt), sang protagonis berjuang untuk membalikkan kejayaan yang berangsur pudar.

Dalam satu kesempatan, Dalton bertemu dengan Marvin Schwarzs (Al Pacino) yang menawarkan peluang untuk memerankan serial koboi buatan sineas Italia. Sempat ragu, kesudahannya Dalton menyimpulkan untuk bergabung.

REVIEW Once Upon a Time in Hollywood

Hampir setengah cerita, kalian bakal disuguhi dinamika Dalton dan Booth dalam keseharian. Bagaimana teknik Dalton untuk dapat kembali tancapkan diri di industri seni peran. Sementara itu, ada pun suguhan kilas balik dari Booth, yang pernah adu jotos dengan Bruce Lee (Mike Moh).

Di sisi lain, terdapat sosok Sharon Tate (Margot Robbie) yang tidak jarang kali tampil bersinar. Maksudnya di sini, Tate sukses meraih atensi dalam masing-masing momen yang sedang dijalani. Baik saat asyik berdansa di Playboy Mansion atau ketika nonton film yang diperankan olehnya di dalam bioskop. Karakter satu ini diisi dengan aura positif dan dapat dengan cepat memikat penonton.

Penuh dengan Referensi Hollywood Zaman Dulu

Di film ini, Tarantino sukses menggambarkan kondisi Hollywood di era’60-an. Dipenuhi dengan kalangan hippie serta menghadirkan sosok yang tenar di zaman itu. Di samping penampilan Bruce Lee sebagai cameo, ada pun sosok Steve McQueen (Damian Lewis), George Spahn (Bruce Dern), serta Charles ‘Tex’ Watson (Austin Butler).

Dua nama terakhir mempunyai peran besar dalam tragedi yang menewaskan Sharon Tate di dunia nyata pada 9 Agustus 1969. George Spahn ialah pemilik perumahan peternakan yang dihuni oleh Keluarga Manson pimpinan Charles Manson. Sepanjang Juli-Agustus 1969, kumpulan sekte ini menghabisi sembilan nyawa enggak bersalah, dan Tate menjadi korban yang sangat dikenal.

Buat kalian yang belum tak asing dengan Tate, perempuan cantik satu ini ialah artis yang menjadi korban pembantaian dari Manson Family. Bisa dibilang, walaupun enggak bersinggungan langsung dengan Rick Dalton dan Cliff Booth di mayoritas durasi film, Tate ialah benang merah yang menyusun Once Upon a Time in… Hollywood menjadi satu.

Akting Gemilang DiCaprio dan Pitt

Apa jadinya andai film karya Tarantino didukung oleh talenta sebesar Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt? Hasilnya ialah tontonan sarat hiburan yang berhasil mengundang decak kagum. Di luar jalan kisah terkesan ‘datar’, daya tarik dua artis besar Hollywood ini sukses memikat pemirsa dan ‘dipaksa’ untuk mengekor narasi yang telah dirangkai.

Bicara momen mengesankan, terdapat sensasi menggelitik muncul ketika menonton Leonardo DiCaprio kelimpungan sebab lupa bakal dialog saat kamera rolling. Tampil nyata dan memikat, sekali lagi DiCaprio sukses memukau dengan kualitas akting tingkat dewa. Enggak bermaksud hiperbola, namun ini ialah pengalaman yang KINCIR dapat saat menyaksikan Once Upon a Time in… Hollywood.

Pun begitu dengan Brad Pitt. Sosok Cliff Booth laksana teman sejati yang rela mengerjakan apa aja guna kenyamanan sahabatnya. Enggak hanya dalam pekerjaan, Booth pun menjadi lokasi sharing idaman. Ketika Dalton sedang putus asa, Booth datang memuji supaya kawannya pulang semangat.

Namun, terdapat satu yang tidak cukup terasa di film ini. Pengembangan karakter tampaknya enggak menjadi konsentrasi Tarantino di Once Upon a Time in… Hollywood. Pasalnya, dua karakter utama tetap tampil ‘apa adanya’ dari mula film sampai akhir.

KINCIR enggak bilang Once Upon a Time… in Hollywood jelek, cuma, film satu ini mempunyai nuansa yang tidak banyak ‘beda’ dikomparasikan karya Tarantino lainnya. Jangan harap bakal ada aksi baku hantam brutal sarat darah serta adu tembak yang memacu adrenalin tiap rentang 10 menit.

Once Upon a Time in… Hollywood tergolong film yang mengalir lambat, mengandalkan kekuatan narasi, dan menyuruh kalian untuk merasakan nuansa yang dihadirkan. Namun enggak butuh khawatir, semua tersebut akan bergerak mengarah ke klimaks yang epik di 30 menit akhir.

Sebagai kesimpulan, Once Upon a Time in… Hollywood paling menghibur berkat kolaborasi akting gemilang para barisan pemeran dengan kejeniusan Tarantino dalam menyusun cerita. Memang, perlu waktu adaptasi untuk dapat menikmati film ini. Namun, percaya, deh, semuanya bakal berbalas dengan efek dahsyat yang muncul ketika berlalu nonton.