Review ‘Spider-Man: Far From Home

Posted 2019/09/16 34 0

 

Untuk kalian yang setia mengikuti cerita Spider-Man, pasti kutipan tersebut telah tidak asing lagi. Diucapkan oleh Paman Ben terhadap Peter Parker, alter ego Spider-Man, kalimat itu mengajarkan bahwa kekuatan super tidak boleh dipakai dengan sesuka hati, tetapi dengan sarat tanggung jawab. Nah, tanggung jawab menjadi tema besar yang diangkat Spider-Man: Far From Home, film kedua Spider-Man di Marvel Cinematic Universe (MCU).

Spider-Man: Far From Home memungut setting sejumlah hari sesudah pemakaman Tony Stark di akhir Avengers: Endgame. Setelah Tony Stark memutarbalikkan efek Decimation, atau dinamakan sebagai The Blip di film ini, yang dilaksanakan Thanos lima tahun kemudian di event Avengers: Infinity War, kehidupan sekolah Peter Parker (Tom Holland) pulang normal. Meski begitu, sebab Peter tergolong yang hilang dalam The Blip, kini ia satu ruang belajar dengan murid-murid yang lima tahun lalu ialah junior-juniornya.

di sisi lain, peristiwa yang terjadi pada Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame masih dominan terhadap Peter. Peristiwa berdarah itu membebaninya secara psikologis, lagipula ia kehilangan mentornya di sana, Tony Stark (Robert Downey Jr.). Beban yang ia tanggung membawa Peter hingga ke satu titik di mana ia malas guna menjadi Spider-Man lagi. Ia hendak merasakan kehidupan yang normal laksana remaja banyak sekali di mana ia dapat bermain dengan kawan-kawannya, berpacaran dengan wanita yang ia cintai, tanpa mesti memikirkan keselamatan publik masing-masing menitnya.

https://carifilmterbaru.com/articles/review-spider-man-far-from-home

Sayangnya, kemauan Peter guna mempunyai kehidupan normal tak semudah yang ia bayangkan. Nick Fury (Samuel L. Jackson) berkali-kali meminta bantuannya guna menghadapi musuh baru mempunyai nama the Elementals. The Elementals, yang berwujud monster dari sekian banyak elemen dasar, memunculkan bencana di sekian banyak negara yang ditakutkan Fury akan membawa bumi ke situasi yang lebih parah pasca-Thanos.
Berdasarkan keterangan dari Fury, Spider-Man ialah satu-satunya anggota Avengers yang dapat ia jangkau di ketika tidak terdapat satupun dari Avengers mulai dari Dr. Strange sampai Captain Marvel yang dapat membantunya. Meski begitu, bukan berarti tidak ada pertolongan lain dari luar Avengers.

Spider-Man: Far From Home mengenalkan “jagoan” baru mempunyai nama Quentin Beck alias Mysterio (Jake Gyllenhaal). Mengklaim dirinya muncul dari bumi yang berbeda, Earth-833, Beck menuliskan bahwa buminya hancur dampak serangan The Elementals. Ia tidak hendak bumi-bumi lain merasakan nasib serupa, oleh karenanya ia menyimpulkan untuk mengerjakan perjalanan antar-dimensi yang menjadi mungkin dampak peristiwa The Blip. Kehadiran Beck tak ayal memunculkan pemikiran di diri Peter bahwa barangkali ada jalannya untuknya pensiun sebagai Spider-Man.

Konflik di dalam diri Peter perihal memilih hidup normal atau tetap menjadi Spider-Man menjadi cerita utama di film ini. Berkali-kali sutradara Jon Watts menyuguhkan saat-saat di mana Peter galau dengan pilihannya sampai kita diciptakan gemas. Untungnya, waktu galau itu tampil realistis tanpa dramatisasi berlebihan sebab pemicunya ialah hal-hal yang umum dirasakan remaja mulai dari rasa iri, rasa cemburu, sampai rasa fobia ditikung rekan sendiri.

Bagaimana kegalauan tersebut lantas berkembang menjadi masalah tanggung jawab seorang superhero pun dikerjakan dengan baik. Peter tidak diperlihatkan serta merta meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang Spider-Man begitu ia mendapati Mysterio lebih “heroic” dikomparasikan dirinya.
Lewat naskah dari Chris McKenna dan Erik Sommers, Peter dikisahkan tetap berupaya menjadi seorang superhero sebaik mungkin, walau jauh di dalam lubuk hatinya ia telah malas. Oleh karenanya, walaupun kegalauannya kadang-kadang bisa buat kita kesal sendiri, di satu sisi kita dapat bersimpati dengannya, karena Peter tetaplah seorang bocah yang belum tahu dunia namun seketika harus mengawal kedamaiannya.

Perlu dinyatakan bahwa tema tanggung jawab tersebut serupa dengan tema yang diangkat sutradara Sam Raimi di Spider-Man 2 (2002). Di Spider-Man 2, Peter pun mulai malas menjadi Spider-Man saat jarak antara dirinya dan Mary Jane menjadi semakin jauh sebab tanggung jawabnya sebagai pahlawan kota New York. Tetapi, tidak butuh khawatir, sutradara Jon Watts mengeksekusi tema besar itu dengan teknik yang berbeda.

Tema tanggung jawab di Spider-Man: Far From Home lebih enteng dan pas dengan setting dunia remaja, sedangkan tema tanggung jawab di Spider-Man 2 lebih dewasa dan dramatis. Tanpa menilai yang satu lebih baik dari yang lain, dua-duanya memiliki keunggulan masing-masing yang mesti disaksikan dari konteks kisah yang disampaikan.

Lebih lanjut, pengembangan karakter Peter di Spider-man: Far From Home pun lebih asyik sebab teman-teman sekelasnya mempunyai porsi lebih dikomparasikan prekuelnya, Spider-man: Homecoming. Karakter-karakter mereka, mulai dari MJ, Betty Brant (Angourie Rice), sampai Ned Leeds (Jacob Batalon), lebih hidup dan menolong Peter menilai arah hidupnya. Bahkan, mereka pun berperan menolong Spider-Man menghadapi musuh-musuhnya, tidak selesai sebagai korban atau target incaran saja.

Dari sekian tidak sedikit teman-teman yang dipunyai Peter, pasti saja yang sangat menonjol di film ini ialah MJ. Dikembangkan sebagai love interest Peter, MJ diperlihatkan sebagai wanita yang independen, kuat, tetapi kikuk. Baik MJ maupun Peter sama-sama kikuk saat harus mengindikasikan perasaan mereka, sampai-sampai hubungan mereka berkembang secara natural, tidak seketika sudah menjadi sepasang kekasih.

Pujian serupa harus diserahkan ke karakter Mysterio. Karakternya mempunyai peran yang tak kalah urgen terhadap diri Peter. Malah, pengembangan karakter Peter tak bakal bergerak maju di film ini andai tidak terdapat Mysterio yang dibintangi secara historikal oleh Jake Gyllenhaal. Tanpa hendak memberikan spoiler, ada tidak sedikit kejutan dari karakter yang mempunyai helm laksana akuarium ikan mas tersebut.
Di luar ciri khas dan kisah yang apik, urusan yang menonjol dari film ini ialah visualisasinya. Spider-Man: Far From Home mempunyai visualisasi yang surreal dan psikedelik berkat kehadiran Mysterio yang berpengalaman memainkan ilusi. Kualitasnya boleh disebutkan setara dengan visualisasi di film Doctor Strange yang disinggung sebagai di antara yang terbaik di MCU.
Oleh karenanya, sebisa mungkin, tontonlah Spider-Man: Far From Home di bentuk 3D sebab visualisasinya dapat membawa anda ke dunia beda yang tidak melulu fantastis, tetapi pun horror dan surealis. Tidak berlebihan menyinggung Spider-Man: Far From Home mengupayakan memberdayakan teknologi 3D yang telah mulai jarang digunakan itu.

Satu-satunya urusan yang patut disayangkan dari film ini ialah kaitannya dengan figur Tony Stark. Meski anda tahu bahwa figur tersebut sudah wafat di Avengers: Endgame, perannya masih terasa di cerita besar Spider-Man: Far From Home. Berbagai plot penting, ataupun subplot, memiliki kesimpulan dengan sang Iron Man.

Hal itu tak pelak menciptakan dunia Spider-man: Far From Home terasa agak sempit sebab segala hal laksana dipaksakan bersangkutan dengan figur Tony Stark, tak terkecuali dalam urusan Peter menggali solusi atas masalah pribadinya.
Bisa dicerna bahwa Marvel mengerjakan hal ini guna mengembangkan Spider-Man sebagai the next Iron Man, namun Play Stop Rewatch berpikir bahwa tetaplah ideal figur Spider-Man di MCU dikembangkan untuk terbit dari bayangan sang mentor.
Akhir kata, Spider-Man: Far From Home ialah salah satu film Spider-Man terbaik yang pernah ada. Berbagai penambahan terjadi di segala sektor mulai dari sisi kisah hingga visualisasi. Marvel Studios sukses membuat Spider-Man: Far From Home terasa segar dan bertolak belakang dari film-film Spider-Man sebelumnya, meski keakuratannya tidak banyak dikorbankan guna hal itu.

Movies in this article